CABANGBUNGIN – Eceng Gondok merambat tumbuh hingga 2-5 meter melebar di atas permukaan air setia hari. Akibatnya menjadi gulma, dan disebut tanaman perusak serta berkategori polutan.
Gulma air ini menyebabkan air danau, empang dan sungai mengering 8-kali lebih cepat dibanding kondisi biasanya. Tanaman ini juga menyebabkan gangguan pada saluran irigasi, menurunkan daya bendungan, menghambat transportasi air dan yang paling parah bisa membuat banyak ikan mati kehabisan napas.
Selain itu, bangkai tanaman ini menyebabkan endapan yang cukup tinggi di dasar sungai atau danau sehingga mempercepat pendangkalan. Dengan aliran air yang terhambat oleh rimbunnya tanaman ini, ekosistem sekitar menjadi rusak. Lingkungan yang dipenuhi tanaman ini seringkali menjadi habitat nyamuk dan hewan berbahaya lainnya berkembang biak hingga menjadi ancaman bagi manusia.
Karenanya di beberapa negara tanaman ini dijuluki sebagai “Blue Devil” (Setan Biru) dan “Noxious Species” (Mahluk Racun).Di India, spesies ini dikenal sebagai Teror Benggala karena reputasinya yang invasif. Kisah asal usulnya juga bervariasi di berbagai tempat.

Menurut beberapa sumber, pada abad ke-18, Gubernur Jenderal Inggris Warren Hastings adalah orang yang pertama kali membawa eceng gondok ke India untuk diberikan kepada istrinya. Hastings mengira tanaman itu adalah bunga, ia tidak menyangka bahwa tanaman yang dibawanya adalah gulma mematikan. Tidak lama berselang, gulma itu menjajah sebagian besar perairan di seluruh India.
Puncaknya, suatu ketika pemerintah India mengerahkan 7000 serdadu militernya untuk “berperang” melawan Eceng Gondok di danau Ulsoor. Para serdadu itu membersihkan dan membebaskan danau dari “jajahan” tumbuhan air ini selama berhari-hari. Tidak sedikit tenaga, waktu dan biaya yang dihabiskan untuk “perang” melawan “terroris hijau” ini.
Eceng gondok saat ini mencemari beberapa perairan di hampir seluruh wilayah di Indonesia, dan menimbulkan bahaya ekologi yang besar. Termasuk di daerah aliran sungai di Kabupaten Bekasi, salah satunya di sepanjang Saluran Sekunder Srengseng Hilir di Kecamatan Cabangbungin. Gulma eceng gondok menjadi penyebab penyumbatan aliran sungai, pendangkalan sungai, bahkan menjadi penyebab banjir, dan seringkali lokasi yang dipenuhi eceng gondok menjadi habitat nyamuk, ular, biawak dan hewan berbahaya lainnya.
Hal ini tentunya menjadi ancaman bagi penduduk di pemukiman sekitar sungai tersebut. Sebenarnya, pemerintah kecamatan dan desa sudah turun tangan mengatasi masalah ini.Mereka beberapa kali melakukan pembersihan dengan ekskavator, namun beberapa minggu setelahnya tanaman ini muncul kembali.
Mengingat spesies invasif ini cepat sekali berkembang biak, penanggulangan yang hanya mengandalkan pembersihan dengan pengerukan menggunakan alat berat dianggap kurang efektif dan hanya menghabiskan banyak biaya, karena faktanya tanaman ini akan tetap muncul kembali.
Namun, ada banyak inisiatif yang dapat dilakukan untuk menghentikan penyebaran Eceng Gondok, salah satunya dengan menambah jumlah predator alami di habitat tanaman ini. Beberapa hewan herbivora diyakini dapat mengurangi populasi tanaman ini.
Demikian disampaikan oleh Ricky Erviantara, selaku Patriot Desa Jawa Barat, yang tahun ini ditugaskan di Kecamatan Cabangbungin, Kabupaten Bekasi.
“Kami akan Perang Damai, ya artinya kami ingin mengurangi populasi tanaman ini secara cepat tapi tetap dengan memperhatikan prinsip berkelanjutan. Selain pembersihan manual, pengendalian hayati bisa dimulai dengan memperbanyak predator alami seperti kumbang (Neochetina), siput, ikan koan dan ikan gurami ” ungkap Ricky kepada Bekasiekspres.com, Rabu (30/04/2025).
“Kemudian pengendalian nutrisi dengan mengurangi input limbah organik dan pupuk kimia ke wilayah perairan yang jadi habitat eceng gondok, serta edukasi pemanfaatan eceng gondok menjadi kerajinan, pupuk cair/kompos dan olahan pakan ternak melalui pelatihan-pelatihan di masyarakat,” ungkap Ricky lagi.
Riset ini, lanjut Ricky, akan dibuktikan efektivitasnya oleh Patriot Desa dan Mahasiswa UI (Universitas Indonesia) di beberapa daerah perairan yang ada di Desa Jayabakti, Kecamatan Cabangbungin, Kabupaten Bekasi. Diantaranya Kali Srengseng Hilir, beberapa rawa dan beberapa empang mati yang ada di wilayah Desa Jayabakti.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Patriot Desa ini diagendakan pada Bulan Juli 2025 mendatang, dan akan berlangsung selama satu pekan. Patriot Desa bersama Local Champions yang berkolaborasi dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (BEM FIA UI) untuk memadukan kegiatan ini dengan program Fundes 2025 (Pengabdian Masyarakat), dan akan mengusung tema Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) bagi Masyarakat Desa.
Dijelaskan Ricky, kegiatan didukung penuh oleh Pemerintah Desa Jayabakti. Dukungan ini disampaikan langsung oleh Kepala Desa Jayabakti, Akim, S.AP saat ditemui Patriot Desa dan Perwakilan Mahasiswa dari BEM FIA UI di Ruangan Kantor Kepala Desa Jayabakti.
“Saya pasti dukung penuh. Masalah eceng gondok ini kompleksitas. Nyumbat sampah di kali, bikin banjir kali, dan bahkan yang di empang-empang bisa jadi sarang nyamuk DBD. Jadi sampaikan saja apa yang bisa kami bantu, Insya Allah pasti kami usahain,” ujar Ricky menirukan pernyataan dukungan Kepala Desa Akim.
Ketua Pelaksana Fundes BEM FIA UI 2025, Shafina menyatakan tidak akan terburu-buru dalam pelaksanaannya. Menurutnya, kegiatan ini harus dipersiapkan sematang mungkin agar ada dampak nyatanya.
“Fundes (Program Pengabdian Masyarakat) tahun ini kami kembali didampingi Patriot Desa, dan dua bulan ke depan (Mei-Juni), kami akan fokus di persiapan. Mulai dari pemetaan masalah, administrasi perizinan, survey responden, pengadaan barang, dan logistik,” ucap Shafina saat penyerahan dokumen perizinan kepada Kepala Desa Jayabakti.
“Semuanya harus direncanakan dan dilaksanakan serapih mungkin supaya program ini efektif, sehingga dampaknya dapat dirasakan langsung oleh Masyarakat Desa Jayabakti,”ucap Shafina menambahkan.
Selain giat Penanggulangan Masalah Eceng Gondok, kolaborasi Patriot Desa dengan BEM FIA UI dalam program Fundes 2025, juga akan dipadati dengan beberapa kegiatan lainnya, seperti: Edukasi Pengolahan Sampah, Sosialisasi Pencegahan Stunting, Bahaya Merokok dan Buang Air Besar (BAB) Sembarangan, Sosialisasi Anti Tawuran, Narkoba, Perundungan, Penanaman Bibit Pohon (Reaktivasi Lahan Tidur), Gotong Royong Pembersihan Saluran Irigasi, Pengadaan Tempat Sampah dan Wastafel di Titik Keramaian, serta Pengajuan Rekomendasi Kebijakan kepada para Pemangku Kebijakan di Desa Jayabakti. (RED)
Leave a Reply