Saling Tuding, Kades Buni Bakti : Direktur BUMDes Belum Setor LPj

Ilustrasi (AI).

BABELAN – Polemik pengelolaan keuangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Buni Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi semakin meruncing. Aksi saling tuding mencuat antara Direktur BUMDes, Pengawas, dengan Kepala Desa.

Kepala Desa Buni Bakti, Sidi Sumardi membantah tudingan terhadap dirinya yang disebut telah menggunakan anggaran BUMDes hingga puluhan juta rupiah.

“Tidak benar jika saya dikatakan menggunakan anggaran BUMDes, apalagi hingga puluhan juta,” ujar Sidi kepada Bekasi Ekspres melalui sambungan selular, Sabtu (11/07/2026).

Sidi mengungkap bahwa Direktur BUMDes samasekali belum melakukan laporan pertanggungjawaban (LPj) pengelolaan keuangan BUMDes terhadap dirinya sebagai Penasehat BUMDes.

Bagaimana keadaan ternak – ternak yang dipelihara BUMDes, sambung Sidi, apakah jumlahnya masih sama seperti awal pembelian. Serta, apakah sudah menuai hasil, atau malah merugi. Intinya semua itu harus tercatat sebagai acuan evaluasi dan dilaporkan secara berkala untuk dipertanggungjawabkan.

“Sebagai kepala desa, saya merupakan Penasehat BUMDes, maka mestinya saya harus diberitahukan secara spesifik dan berkala tentang pengelolaan usaha BUMDes. Tapi hingga saat ini saya belum menerima laporannya,” tutup Sidi.

Diberitakan sebelumnya, pada tahun 2025 Pemerintah Desa Buni Bakti mengucurkan penyertaan modal BUMDes dalam dua versi, yakni pertama Rp. 123.720.000 dan kedua penyertaan modal BUMDes Ketahanan Pangan sebesar Rp. 142.280.000. Totalnya dalam 1 tahun BUMDes Buni Bakti menerima modal sebesar Rp. 266.000.000.

Berdasarkan penelusuran Bekasi Ekspres, anggaran tersebut dipergunakan untuk sewa lahan selama 5 tahun sekaligus membangun kandang untuk 150 ekor ayam petelur, serta membeli 10 ekor kambing.

“Untuk ayam petelur hingga hari ini kami belum bisa menuai hasil secara maksimal, tetapi kambing sudah ada yang mengandung,” ujar Ketua BUMDes Buni Bakti, Riswan Rifai kepada Bekasi Ekspres.

Saat disinggung mengenai jumlah ternak yang dibelanjakan lebih sedikit jika disesuaikan dengan modal. Bahkan, pemeliharaannya tidak maksimal, hingga menuai hasil belum maksimal pula, Riswan Rifai tidak menyangkal adanya kekurangan modal.

Riswan mengaku sangat kewalahan biaya pemeliharaan juga perawatan ternak. Bukan tanpa sebab, lanjutnya, hal ini karena dari awal modal sudah berkurang banyak lantaran lebih dari Rp. 30 jutaan diminta oleh Sang Kades Buni Bakti, Sidi Sumardi.

“Pak Lurah beberapa kali menggunakan uang modal BUMDes, terakhir Pak Lurah pakai lagi sebesar Rp. 15 juta. Makanya saya pusing mensiasati agar pengelolaan ini terus berjalan. Tapi saya akan tetap bertanggungjawab untuk membelikan pakan serta honor pekerja yang merawat ternak,” pungkasnya.

Senada dikatakan Pengawas BUMDes Buni Bakti, Nasir, sebelum memberikan uang yang diminta Kepala Desa, Ketua BUMDes terlebihdahulu memberitahukannya.

“Iya betul, saya sebagai pengawas akhirnya serba salah, bagaimana BUMDes bisa berkembang hingga membantu perekonomian warga kalau keuangannya devisit,” keluh Nasir. (FER)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*