PONDOKGEDE – Kepala SMK Negeri 12 Kota Bekasi, Luki Lestari M.pd menjelaskan duduk persoalan terkait calon siswi yang sudah mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tetapi tidak terdata dalam Sistim Penerimaan Murid Baru (SPMB). Ia menduga pihak operator SPMB di sekolah sengaja mengabaikan instruksinya, sehingga data Putri Laysyah Octria Junaedi tidak diinput ke dalam sistem.
Luki menuturkan, bahwa dirinya memdapat telepon dari keluarga Putri pada Jumat (12/07/2025) sore menjelang magrib yang memberitahukan bahwa mereka sudah menemui Kepala Cabang Dinas (KCD) wilayah III sesuai arahan panitia SPMB di sekolah untuk mempertanyakan kejelasan status Putri, sebagai calon siswa SMKN 12. Tetapi, pihak panitia yang mengarahkan dan berjanji akan menunggu di sekolah, ternyata sudah tidak ada.
“Karena ditelepon, lalu saya bilang, ya udah pak begini saja, biar kita enak sama – sama ngobrolnya saya tunggu di sekolah jam 8 pagi, hari Sabtu,”kata Luki Lestari saat ditemui awak media pada Kamis,(12/07/2025).
Lanjut Luki, sesuai instruksi KCD dalam zoom meting dengan para kepala sekolah, bahwa masih ada kesempatan melalui jalur Pencegahan Anak Putus Sekolah (PAPS) dalam SPMB yang deadline pendaftaranya pada hari itu, Sabtu (13/07/2025) hingga pukul 12 siang. Namun, ketika ia akan membuat nota dinas untuk rekomendasi calon siswa baru, pihak operator SPMB yang dihubungi sama sekali tidak ada yang merespon dan mereka juga tidak berada di sekolah.
“Sebenarnya itu sudah clear waktu pihak keluarga ke KCD, karena dari panitia sudah ditunggu, tapi saya tidak tahu, karena pihak panitia SPMB (di sekolah) tidak kordinasi dengan saya, itu yang sangat saya sayangkan, menyuruh lagi ke orangtua siswa,”ujarnya.
Lebihlanjut, Luki menegaskan bahwa dirinya berempati kepada Putri yang notabene anak yatim dari keluarga kurang mampu dan pernah putus dari sekolah swasta karena keterbatasan biaya. Namun, karena kurangnya harmonisasi hubungan antara atasan dan bawahan di SMKN 12, sehingga Putri menjadi terkendala dalam proses SPMB.
“Operator di SPMB itu tidak ikut perintah dan mengindahkan pengabaian kepala sekolah,”ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, awak media juga mencoba mengkonfirmasi kepada salah satu operator SPMB SMKN 12 Kota Bekasi yang bernama Alvin, namun menurut staf sekolah Alvin tidak mau memberikan keterangan tanpa didampingi operator lainnya. Dan, ketika dipanggil kembali sama kepala sekolah, ternyata Alvin sudah tidak berada di tempat semula.
Sementara, Ropendi, paman dari Putri Laysyah Octria Junaedi menuturkan, saat ini keponakanya sedang sakit dan mengurung diri di rumah tidak mau bersosialisasi. Ia menduga mental psikologis Putri menjadi terdampak akibat gagal masuk ke SMK Negeri 12 Kota Bekasi.
“Keponakan sekarang sakit gak mau ketemu orang, malu gak mau ketemu orang. Sekarang anaknya gak mau sekolah, trauma psikis mungkin,”ucapnya.
Ropendi berharap, ke depanya SMK Negeri 12 Kota Bekasi lebih profesional dalam melaksanakan proses SPMB. Terlepas dari adanya konflik internal antara atasan dan bawahan di sekolah, sehingga tidak merugikan calon siswa baru. (RAN)
Leave a Reply